RANAH MINANG

Mounting created Bloggif Mounting created Bloggif

MEMAHAMI AJARAN ADAT MINANG KABAU (DIPERUNTUKKAN BAGI YANG BELUM MENGETAHUI DAN MEMAHAMI)

Bismillahirrahmaanirrahiim, Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ALUR PIKIR MEMAHAMI AJARAN ADAT MINANG Sebagaimana dapat dipahami bahwa ajaran adat minang disampaikan memalui dua cara; pertama secara langsung (dengan bahasa lugas) dan secara tidak (langsung melalui perumpamaan dan pemisalan). Namun sebagian besar diantaranya, terutama yang berkaitan dengan anjuran bertindak atau berbuat lebih sering diungkapkan dalam bentuk tidak langsung (bahasa basisampiang), terbungkus oleh perumpamaan. Sekaitan dengan anjuran bertindak tentang cara memahami ajaran adat ini terungkap dalam sebuah pepatah adat sebagai berikut; Satinggi-tinggi malantiang Mambubuang ka awang-awang Suruiknyo ka tanah juo Sahabih dahan jo rantiang Dikubak di kulik batang Tareh panguba barunyo nyato. Tiga kalimat pertama, walaupun merupakan sampiran sebuah pantun, tetap mengandung pesan yang bermakna bahwa orang sering mengambil kesimpulan makna harfiah dari ajaran adat, dan walaupun begitu bagusnya kesimpulan yang diambil berdasarkan makna harfiah tersebut, untuk mendapatkan makna sesungguhnya harus kembali kepada dasar (benda atau prilaku apa yang digunakan sebagai pembungkus makna pesan). Tiga kalimat berikutnya merupakan perumpamaan yang digunakan untuk membungkus makna sesuangguhnya dari ajaran adat. Dalam pepatah ini pesan dibungkus dengan sebatang pohon kayu. Untuk dapat memahami makna ajaran ini kita harus memahami; Kayu apa yang dijadikan perumpamaan, bagian-bagian dari pohon kayu itu, fungsi-fungsi (kegunaan) dari bagian kayu itu dalam kehidupan masyarakat pada dekade ajaran adat itu disusun, sifat-sifat atau hukum alam (sunatullah) yang berlaku pada setiap bagian kayu tersebut. Mari kita coba mengikuti alur pikir bagaimana memahami kayu yang digunakan sebagai pembungkus makna ajaran terseut di atas. Kalau memperhatikan ungkapan bagian kayu yang diungkapkan dalam papatah ini, dapat dipahami bahwa kayu yang dimaksud adalah kayu/pohon Salam atau pohon Payo. Hal ini terungkap dari kata panguba. Kayu (pohon kayu) merupakan komoditi utama yang sangat diperlukan masyarakat minang masa dulu. Hampir keseluruhan dari bagian dari kayu yang diperlukan masyarakat untuk berbagai keperluan hidupnya. Nilai manfaat kayu inilah yang dijadikan pesan untuk memberi tahu bahwa ajaran adat sangat berguna bagi masyarakat. Urutan tiga kalimat diatas juga menyampaikan pesan tentang bagaimana proses memahami ajaran adat yang diungkapkan dengan cara memahami pohon kayu; yaitu pelajari secara keselurahan secara detail baik bagian kacilnya maupun bagian yang lebih besar. Untuk memahami bagian yang besar perlu dilakukan penguraian (memperinci) lebih lanjut, diungkapkan dengan kalimat "dikubak di kulik batang" (kupas dibagian kulit batang), bukan dikulit dahan atau ranting. Karena disana ada bagian lagi yang perlu dipahami, terungkap dalam kalimat "tareh panguba mangkonyo nyato", yaitu mana yang "tareh" dan mana yang kulit "panguba". "Tareh" adalah bagian kayu yang keras dan kuat yang biasa digunakan untuk membangunan bangunan baik rumah atau bangunan lainnya. "Panguba". Kata Panguba merupakan kata dasar "uba" berimbuhan "pang". Imbuhan pang dalam bahasa minang merupakan imbuhan yang menunjukan fungsi atau kegunaan dari kata benda atau akata kerja yang mengikutinya. "Uba" adalah getah yang terdapat pada kulit kayu atau getah dari buah kayu tertentu yang digunakan untuk mengawetkan dan meningkatkan kekuatan kain dan benang. Demikianlah pemahaman saya tentang makna pesan yang terkandung dalam papatah yang merujuk pada alur pikir yang harus digunakan dalam memahami ajaran adat minang kabau. Alur pikir ini akan digunakan secara konsisten dalam membahas papatah patitih adat pada waktu berikutnya di halaman Barando surau tapi aie ini, insya-Allah. Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar: